Lontara Bugis Makassar merupakan salah satu bukti bahwa Sulawesi Selatan memiliki kebudayaan yang tinggDalam lontara, pikiran-pikiran, aktivitas, dan perilaku masyarakat, terekspresi dan terekam secara abadi dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Tulisan merupakan salah satu wujud kebudayaan manusia, seperti wujud kebudayaan lainnya. Tulisan ini diciptakan lantaran adanya dorongan yang kuat dari dalan diri sang penciptanya untuk mengabadikan hasil-hasil pemikiran mereka, yang bisa mereka lihat setiap saat ataupun diwariskan ke generasi keturunannya. Tulisan ini lahir dari sebuah aksara kemudian dirumpun dan melahirkan sebuah bahasa yang memiliki makna tentang apa yang dituliskan para penulisnya.
Namun, dari ratusan bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Marauke, tidak semuanya memiliki aksara untuk merekam nilai-nilai budaya yang ada di dalam masyarakat pemilik bahasa itu. Bugis-Makassar merupakan salah satu bahasa daerah yang memiliki aksara yang dapat merekam, mencatat nilai-nilai luhur atau pesan-pesan, pangngadakkang atau adapt istiadat.
Menurut H Andi Ahmad Saransi, Kepala Sub Bidang Pengolahan Arsip pada Badan Arsip dan Perpustakan Daerah Provinsi Sulsel mengatakan ada tiga jenis aksara lontara Bugis-Makassar yaitu lontara jangang-jangang, lontara biasa atau sulapa appa dan lontara bilang-bilang.
Hingga saat ini tak seorang ahlipun yang menemukan siapa yang menciptakan aksara lontara tersebut. Christian Pelras peneliti dan penulis buku “the Bugis” (1996) asal Prancis menyebutkan bahwa lontara lontarak di Sulawesi Selatan ada persamaan dengan aksara yang ada di Sumatera, seperti aksara Lampung, Rejang, Batak, dan Pasemah. Johan Hendrik Caspar Kern salah seorang ahli bahasa sanskerta berkebangsaan Belanda berpendapat bahwa aksara lontara berasal dari huruf Sanskrit yang disebut Dewanagari. Pendapat ini dibenarkan oleh Prof. Dr. H. Ahmad Mattulada budayawan Sulawesi Selatan dan menyebutkan Daeng Pamatte syahbandar kerajaan Gowa sebagai pembaharu aksara lontara.
Lontara selain sebagai aksara juga diartikan sebagai naskah, buku bacaan atau catatan harian. Lontara ini sudah ada sebelum masuknya agama Islam di Sulawesi Selatan (abad XVI). Pada awalnya lontara ditulis didaun lontara dengan menggunakan benda tajam sjenis pisau kecil atau kallang tulang daun ijuk kemudian dibubuhi dengan arang yang dicampur dengan minyak atau kemiri yang telah dibakar sampai gosong. Panjang daun lontara tergantung dari cerita yang dituliskan sedang lebarnya hanya sekira 1 cm. Inilah sebabnya sehingga disebut aksara lontara, yaitu aksara yang ditulis pada daun lontara.
Begitu Islam masuk, maka masyarakat bugis Makassar diajarkan bagaimana cara membuat kertas dari kulit kayu. Sebab huruf arab sangat sulit ditulis didaun lontara, kemudian lahirlah macam kertas yang disebut kertas daluang yang dibuat dari kulit kayu. Kertas ini bisa bertahan hingga ratusan tahun.