Selasa, 18 Oktober 2011

ALAT MUSIK TRADISIONAL SULAWESI SELATAN

Musik tradisional Sulawesi Selatan banyak macamnya, diataranya adalah :
a. Alosu : alat musik yang berupa kotak anyaman dari daun kelapa yang didalamnya di isi biji bijian.
b. Anak Becing : alat musik yang terbuat dari batang logam, bentuknya seperti pendayung.
c. Basi-Basi : sejenis alat tiup terompet yang dipasang rangkap.
d. Popondi : alat musik yang terbuat dari kayu yang berbentuk busur seperti tanduk kerbau atau tanduk sapi yang bertumpu pada sebuah tempurung kelapa, di ujungnya atas bagian tanduk dipasang 1 buah senar dan dimainkan dengan cara dipetik (Tana Toraja)
e. Keso-Keso : sejenis rebab (alat musik gesek) dari daerah Toraja
f. Lembong : sejenis seruling yg panjangnya 50 - 100 cm dan dengah garis tengah 2 cm, diujungnya dipasang tanduk kerbau atau sapi jd menyerupai cerobong (Tana Toraja)

A. Kabupaten Pinrang (Suku Bugis)
1. Kecapi
Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis, Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukan atau diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu yang memiliki dua dawai, diambil karena penemuannya dari tali layar perahu. Biasanya ditampilkan pada acara penjemputan para tamu, perkawinan, hajatan, bahkan hiburan pada hari ulang tahun.
2. Gendang
Musik perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang dan bundar seperti rebana.
3. Suling
Suling bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis, yaitu:
Suling panjang (suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telah punah.
Suling calabai (Suling ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapi dan dimainkan bersama penyanyi
Suling dupa samping (musik bambu), musik bambu masih terplihara di daerah Kecamatan Lembang. Biasanya digunakan pada acara karnaval (baris-berbaris) atau acara penjemputan tamu.

B. Kabupaten Enrekang, Suku Massenrengpulu (Maiwa, Duri dan Enrekang)
Musik bambu, alat musik tradisional Suku Massenrengpulu, terancam punah. Masyarakat Suku Massenrengpulu (Maiwa, Duri dan Enrekang) menyebut musik bambu sebagai musik bas, semua peralatannya terbuat dari bahan bambu pelang atau petung, bentuknya menyerupai peralatan musik angklung dari Jawa Barat.
Angklung dan musik bas dimainkan secara berkelompok. Hanya saja bedanya, alat musik angklung mengandalkan bunyi suara bamboo, sedangkan musik bas adalah alat musik tiup. Alat tiup itu pun terus berkembang dan menjadi sarana hiburan rakyat di pedalaman Enrekang, dilengkapi alat tabuh yang dibuat dari kulit sapi dan dimainkan beramai-ramai pada saat upacara adat, menyambut musim panen atau pesta rakyat.

Lagu daerah Sulawesi Selatan : Ati Raja. Anging Mamiri, Ammac Ciang, Pakarena, Idologo, Anak Kukang dll

Rabu, 12 Oktober 2011

TARI PAKARENA

Memang tak ada orang yang tahu persis sejarah Pakarena. Tapi dari cerita-cerita lisan yang berkembang, tak diragukan lagi tarian ini adalah ekspresi kesenian rakyat Gowa.
Menurut Munasih Nadjamuddin yang seniman Pakarena, tarian Pakarena berawal dari kisah mitos perpisahan penghuni boting langi (negeri kahyangan) dengan penghuni lino (bumi) zaman dulu. Sebelum detik-detik perpisahan, boting langi mengajarkan penghuni lino mengenai tata cara hidup, bercocok tanam, beternak hingga cara berburu lewat gerakan-gerakan tangan, badan dan kaki. Gerakan-gerakan inilah yang kemudian menjadi tarian ritual saat penduduk lino menyampaikan rasa syukurnya kepada penghuni boting langi.
Sebagai seni yang berdimensi ritual, Pakarena terus hidup dan menghidupi ruang batin masyarakat Gowa dan sekitarnya. Meski tarian ini sempat menjadi kesenian istana pada masa Sultan Hasanuddin raja Gowa ke-16, lewat sentuhan I Li’motakontu, ibunda sang Sultan. Demikian juga saat seniman Pakarena ditekan gerakan pemurnian Islam Kahar Muzakar karena dianggap bertentangan dengan Islam. Namun begitu tragedi ini tidak menyurutkan hati masyarakat untuk menggeluti aktifitas yang menjadi bagian dari hidup dan kehidupan yang menghubungkan diri mereka dengan Yang Kuasa.
Belakangan ini tangan-tangan seniman kota dan birokrat pemerintah daerah (pemda) telah menyulap Pakarena menjadi industri pariwisata. Dengan bantuan tukang seniman standar estetika diciptakan melalui sanggar-sanggar agar bisa dinikmatin orang luar. Untuk mendongkrak pendapatan daerah, alasannya. Sebagian seniman mengikuti standar resmi dan memperoleh fasilitas pemda. Tapi sebagian seniman lain enggan mengikuti karena dianggap tidak sesuai tradisi adat setempat, meski menanggung resiko tidak memperoleh dana pembinaan pemda atau tidak diundang dalam pertunjukan-pertunjukan.

Sabtu, 08 Oktober 2011

sanggar budaya lagaligo

ASSALAMU ALAIKUM WR WB
TABE....

selamat datang kami ucapkan di blog sanggar budaya lagaligo.
blog ini di buat sebagai media perkenalan sanggar budaya lagaligo yang sedang di usahakan pendiriannya oleh kawan-kawan asal sulawesi selatan yang berada di Bandung khususnya di STKS bandung. tujuannya tidak lain untuk melestarikan budaya bugis makassar agar tetap bisa eksis baik di sulawesi pada umumnya maupun di bandung khususnya... untuk medirikan sanggar budaya lagaligo yang bernuansa bugis makassar di sulawesi mungkin cukup mudah, tetapi membuat sanggar budaya sulawesi di daerah orang lain itu mungkin agak sedikit sulit. selain mungkin pengaruh tempat, pengaruh dukungan juga sangat di butuhkan. oleh karena itu kami mencoba cara agar niat tulus kami melestarikan budaya bugis makassar mendapat dukungan dan mendapat jalan mulus di dalam proses pembentukan sanggar budaya ini. semoga niat dan usaha kami dapat terlaksana dan kami mampu  memperlihatkan ke orang lain bahwa kami darah muda bugis makassar masih mampu mempertahankan budaya kami di atas pengaruh budaya barat yang semakin hari semakain mengikiskan budaya lokal....
ewoko......
                                                                                                      

                                                                                                          salam hangat kami


                                                       MAHASISWA STKS BANDUNG ASAL SULAWESI SELATAN